Banyak anak yang menunjukkan perilaku aktif, penuh energi, dan cenderung sulit diam. Namun dalam banyak konteks pendidikan, baik di sekolah maupun di rumah, perilaku seperti ini sering dianggap sebagai gangguan. Label seperti “nakal”, “tidak bisa diam”, hingga “mengganggu kelas” menjadi identitas yang melekat pada anak-anak aktif. link resmi neymar88 Pandangan ini bukan hanya keliru, tetapi juga bisa berdampak buruk pada perkembangan psikologis dan akademis anak.
Padahal, keaktifan tidak selalu berarti masalah. Justru banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang aktif secara fisik dan kognitif memiliki potensi besar dalam hal kreativitas, kepemimpinan, dan pemecahan masalah. Namun, karena sistem pendidikan masih terlalu terfokus pada keteraturan, kesunyian, dan kepatuhan, anak yang aktif justru dianggap keluar dari norma.
Sistem Pendidikan yang Terlalu Seragam
Sekolah cenderung menerapkan sistem yang seragam: duduk rapi, dengarkan guru, kerjakan soal, dan jangan banyak bergerak. Dalam kerangka ini, anak-anak yang tidak sesuai dengan pola tersebut dianggap menyimpang. Mereka lalu dirujuk untuk konsultasi, diberi hukuman, atau bahkan diminta mengikuti program khusus karena dianggap “bermasalah”.
Sistem ini lebih menilai perilaku anak berdasarkan kenyamanan guru atau kelancaran proses kelas, bukan berdasarkan kebutuhan dan karakter individu siswa. Anak yang butuh bergerak agar bisa fokus malah dipaksa untuk duduk diam selama berjam-jam. Alih-alih difasilitasi, energi mereka ditekan. Akibatnya, potensi alami mereka tidak mendapat ruang tumbuh.
Antara Aktif dan Gangguan: Perlu Pemahaman yang Lebih Dalam
Memang benar bahwa ada kondisi seperti ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang perlu perhatian khusus. Tapi tidak semua anak yang aktif memiliki gangguan. Sering kali, diagnosis dibuat tergesa-gesa tanpa pemahaman mendalam. Hanya karena anak tidak bisa diam, bukan berarti ia mengalami gangguan neurologis.
Penting untuk membedakan antara karakter bawaan dengan kondisi klinis. Anak yang cerewet, gemar bertanya, dan banyak bergerak belum tentu bermasalah. Bisa jadi, ia justru sedang menunjukkan rasa ingin tahu dan antusiasme belajar yang tinggi.
Budaya yang Menghargai Ketertiban Lebih dari Rasa Ingin Tahu
Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, anak yang patuh dan tenang sering dianggap ideal. Sementara itu, anak yang banyak bicara atau tidak bisa duduk tenang dicap sebagai “anak bandel”. Ini bukan semata persoalan pendidikan, tapi juga persoalan budaya. Kita lebih memuji anak yang “manis” daripada anak yang penuh rasa ingin tahu.
Hal ini membuat anak-anak aktif sering tumbuh dengan rasa malu atau merasa ada yang salah dengan dirinya. Mereka berusaha menekan energi alaminya agar tidak dimarahi. Sayangnya, dalam proses ini, mereka juga kehilangan keberanian untuk bereksplorasi dan mengekspresikan diri.
Mendidik Anak Sesuai Kebutuhan Perkembangan
Pendidikan seharusnya menyesuaikan diri dengan kebutuhan perkembangan anak, bukan sebaliknya. Anak usia dini, misalnya, secara biologis memang belum mampu duduk diam terlalu lama. Aktivitas fisik justru membantu perkembangan kognitif mereka. Belajar sambil bergerak bukan hanya mungkin, tapi juga ideal.
Model pendidikan yang memberi ruang pada anak untuk bergerak, bertanya, dan mengekspresikan diri terbukti lebih efektif dalam membangun motivasi belajar jangka panjang. Bukan berarti semua anak harus dibiarkan liar, tapi penting untuk memberi variasi pendekatan sesuai gaya belajar masing-masing anak.
Kesimpulan: Energi Anak Bukan Ancaman, Tapi Potensi
Anak-anak yang aktif bukanlah gangguan dalam sistem pendidikan, melainkan cerminan dari keunikan cara mereka menyerap dan merespons dunia. Menganggap mereka bermasalah hanya karena tidak sesuai dengan standar ketertiban yang sempit adalah bentuk kegagalan dalam memahami keragaman manusia. Saat sistem pendidikan bisa melihat keaktifan sebagai aset, bukan hambatan, maka anak-anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan ruang yang cukup untuk mengembangkan potensi terbaiknya.